Seperti biasa nya setiap akhir pekan aku bersama teman sekampungku, namanya joko. Seperti namanya dia masih joko di umur yang hampir menginjak kepala tiga. Namun aku tidak pernah mempermasalahkan umur dalam menjalin pertemanan, kalau aku nyaman pasti aku sangat senang berteman dengan mereka. Kebetulan aku dengan joko memiliki hobi yang sama, salah satunya bersepeda. Berikut ini aku akan berbagi kisah dengan sahabat blogger tentang jejakku saat masih sekolah di solo.
| Pemberhentian pertama di daerah persawahan sekitar desaku |
Aku masih ingat perjalanan ini ketika aku memiliki libur panjang di akhir masa sekolah. Sebenarnya itu bukan libur panjang, namun waktu itu ketika diriku sedang menunggu pengumuman kelulusan dan penerimaan beasiswa untuk masuk di salah satu perguruan tinggi di indonesia. Memang dalam hidup ini hal yang paling membosankan adalah ketika menunggu segala sesuatu. Apakah sahabat blogger jga seperti itu? kurasa jawaban semua orang adalah "iya". Perjalanan ini aku dan joko namakan Tour to Sidowarno Brige. Sahabat blogger pasti bertanya kenapa kok namanya seperti itu? jawabannya adalah ada pada cerita ini.
Pagi kala itu terasa dingin bagiku, entah kanapa selalu seperti itu. Suara-suara adzan mulai membangunkan mata ini untuk menuruti kewajiban seorang hamba pada sang pencipta. Dalam lantunan syair itu memiliki makna yang begitu luas. Setiap orang pasti memiliki penafsiran penafsiran sendiri akan hal itu. Entah itu anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan orang tua memiliki penafsiran sendiri akan syair itu. Dorongan-dorongan itu semakin kuat sampai aku tak sadarkan diri untuk melakukan aktifitas rutin seperti ini. Kata guruku SDku, "Kalau sudah melaksanakan kewajiban baru boleh menuntut hak".
Hak seperti apa yang harus aku dapatkan? Aku mencoba untuk menatap lebih dalam apa yang ada di sekitarku. Alam? ya tentu itu hak ku. Tapi apa kamu saja yang memperoleh hak itu? masih ada orang lain yang memiliki hak itu. Berbagilah dengan yang lain, jangan murka dan semaunya sendiri.
Di daerah sekitar desaku, masih ada banyak sekali sawah yang terpapar luas. saat musim tanam padi tiba, seluruh mata pasti melihat warna hijau muda. Sungguh penampakan yang indah nan sejuk yang terlintas dalam bulu kudukku. Tak jauh beda saat musim panen serentak hamparan sawah berubah menjadi kuning. kurasa itu seperti hamparan gurun pasir. Lihat saja saat daun daun itu tersapu oleh belaian angin sawah nan sejuk itu. Gelombang daun padi menimbulkan efek ombak yang begitu dahsyat indahnya.
Pagi itu aliran air juga bulum terlalu kencang, disamping itu yang terlewat hanya selokan kecil berukuran kurang dari 2 meter. Walaupun ukurannya kecil, namun aliran airnya masih cukup jernih untuk membersihkan sepeda putihku ini. Setelah menembus jalan setapak di tengah sawah, aku rasa sepeda putihku inu juga butuh mandi. Biar kinclong gitu lhoh :D
| Tapal batas kabupaten |
Selokan kecil itu mungkin adalah perbatasan antar kabupaten, tengok sajalah tapal perbatasan kabupaten Sukoharjo (kabupatenku) dengan klaten. Si putihku itu berada di kabupaten Sukoharjo, sedang si kuning berada di kabupaten Klaten. Tak jauh beda lah dengan tapal perbatasan negri kita. Paling bedanya tuh cuman pada harga pembuatan tapal perbatasannya doang. padahal bahan dan materialnya sama. :v
Kalau yang satu ini aku lupa apakah ini tapal batas kabupaten ataukah tapal batas desa. Tapi menurutku ini adalah gapura perbatasan antar desa satu dengan yang lain. Liat saja bentuk khas gapura ini seperti pintu masuk dan keluar desa satu menuju atau dari desa yang lainnya. Kalau dalam dunia arsitektur, ini termasuk dalam jenis arsitektur brutalisme (beton expose).
| Sungai bengawan Solo |
Sampailah kita pada tujuan perjalanan ini. Sebenarnya ini bukan tujuan yang asli, namun menurutku ini sayang jika haya terlewat begitu saja tanpa dinikmati menu alam yang satu ini. Sungai yang sudah terkenal se antero indonesia sampai ada lagu yang judulnya seperti nama sungai ini. Bengawan solo namanya. Kau pasti terkejut jika tau kalau ini namanya bengawan solo. indah bukan? :8
Kata joko "nek asu nandani daerak kekuasaanne nganggo taine, nek awake dewe nganggo uyuh wae do :D". Seperti apa yang joko katakan padaku, aku mempraktenkannya, memang agak sedikit jorok sih, buat lucu-lucuan saja, dan itu juga sering ku lakukan jika mengunjungi tempat-tempat baru :D
Memang tidak mengherankan jika bengawan solo memiliki sebuah lagu yang sampai sekarang lagu itu di kenal olehbanyak orang. Menurutku lagu itu sangat fenomenal, lagu yang mampu membuat "Gesang" menjadi orang yang terkenal. Pertama kalinya aku sampai pada tempat ini, aku langsung kagum dengan pemandan di sekitar bengawan solo yang membuat saya berfikir ini adalah sungai yang dekat dengan laut atau samudra.
Bahkan menurutku ini adalah sebuah selat pemisah antar pulau yang satu dengan satunya. Kalau dulu aku yang menemukan aliran air pertama kali, aku akan memberinya nama selat bengawan solo. hahahaha gak mungkin kali yah ? Karena bengawan solo itu sungai terpanjang dan besar yang melintas di pulau jawa, tak mengherankan jika ada sisi sungai yang kotor dan ada sisi sungai yang bersih.
Kalau ada air yang mengalir deras dan sangat segar, pasti aku akan mandi tanpa pikir tempat dan waktu. Mungkin karena aku orang solo jadinya aku gila mandi. Gila mandi disini, kadang berhari-hari aku bisa tidak mandi, dan kadang dalam sehari bisa mandi 3-5 kali. Kata temen-temenku sih aku tuh mandi tidak mandi sama saja. Sungguh nasib menjadi orang ganteng, upsss salah, orang yang ngangenin lebih tepatnya :D
| Si Putih dan Si Kuning |
Inilah tujuan utama perjalanan atau kita (aku & joko) menyebutnya destination. Jembatan sidowarno yang indah dan sedikit tidak terawat karena memang letaknya yang jauh dari keramaian kota. Coba lah sahabat amati sisi belakangku. Itulah tempat yang sedari tadi aku ceritakan pada sahabat blogger. Indah bukan ;)
Jembatan ini memang tidak terlalu ramai, tapi terlalu sayang untuk tidak dinikmati indah dan nikmanya jembatan ini. Konstruksi dari jembatan ini memang tak jauh beda dengan jembatan jembatan yang lainnya, kerana kebanyakan jembatan di indonesia tidak mementingkan sisi estetika dan sisi lingkungan sekitar, selain itu jembatan hanya di fungsikan sebagai jembatan semata. Padahal jembatan memiliki banyak sekali potensi yang bisa kita gali sehingga kita dapat melihat sisi lain dari dunia yang Allah ciptakan untuk kita. Tentunya kita sebagai makhluk ciptaan manusia, juga harus menghargai makhluk ciptaan Allah yang lainnya.
Seperti inilah pemandangan yang terlihat dari sisi atas jembatan. Jembtan tak harus selamanya digunakan sebagai tempat penyebrangan, namun dapat kita fungsikan sebagai menara pengintai keindahan yang Allah ciptakan untuk kita nikmati. Sungguh sayang sekali jika di area sekitar jembatan terkena efek buruk manusia yang meninggalkan sampah di pinggiran bantaran sungai.
Setiap ada awal pasti ada akhir, setiap ada kenikmatan harus kita syukuri. Entah seperti apa nikmat itu, apakah sebuah kenikmatan yang membahagiakan ataupun yang menyedihkan, karena semuanya itu adalah sebuah nikmat. Karena semua yang Allah berikan kepada kita pasti memiliki tujuan yang baik. semoga kita selalu sadar bahwa diri kita itu sebenarnya kecil dan tidak ada apa-apanya di mata Allah.
"Apa yang aku berikan pada alam dan apa yang aku dapat dari alam?"
Dan jawabannya adalah sebuah kenikmatan yang mungkin sulit di sampaikan lewat kata-kata. Karena jawaban terbaik adalah lewat perbuatan ataupun sikap kita terhadap alam. Terus berkarya dan jangan lupa kita hidup dunia ini tidak sendiri. "Jika kau ingin di hargai makhluk lain, hargailah makhluk yang lain pula. Makhluk di dunia ini tak hanya kau semata.
Jangan lupa bahwa Allah melihat segala tingkah laku yang kita lakukan...
good writing and enjoyable experience ^_^
BalasHapusgood job boy (Y)
niku artinipun punopo njih?
Hapusmonggo cobi tanglet kalih mbah gugel :D
BalasHapussampun ngertos mbakyu...
Hapus