Rabu, 18 Desember 2013

sajak sajak untuk simbok

Aku tak pernah memilih dilahirkan menjadi seorang anakmu
Jiwa ini tak pernah mengerti apa arti rasa pedih melahirkan diriku
Jeritan tiang bambu membisikanku semua kisah tentangmu
Aku pernah bertanya pada-padi padi depan gubukmu
Mereka sontak menjawab dengan santun begitu sabarnya dirimu
Jalanan kerikil depan gubukmu sekarang juga sudah menjadi jalan beton
Kerikil-kerikil itu juga setuju dengan kata padi
Hujan tak pernah kunjung reda
Pasir dan tanah akan menjawab semua kesedihan itu
Gubug kayu itu berubah menjadi istana pasir
Bagian depan istanamu berdiri kokoh dua pohon nangka
Benteng bata yang engkau buat sekarang masih sanggup berdiri
Aku ingat kaca yang dulu engkau beri padaku waktu aku lahir
Setiap detik kaca itu selalu berdetak
Engkau taruh kaca itu di ruang tengah istanamu
Tapi sekarang kaca itu ada di dapur
Retak dan enggan berdetak tak seperti saat aku masih di sampingmu
Sekarang aku tak lagi tinggal di istanamu
Kaca itu adalah cermin diriku

Semarang
18 Desember 2013

Tidak ada komentar :

Posting Komentar