Senin, 16 Desember 2013

MATA PANDA

Dinginnya pagi terasa panas di tubuhku
Aku buka mata ini untuk melihat dunia luar
Indahnya itu tertutup oleh kabut
Awan mendung setuju dengan nyanyian-nyanyian itu

Mataku ini tak sanggup untuk menolak perintah
Sebenarnya dia menolak menuruti langkah kaki
Tapi apa daya mata berkata tak bisa terucap
Mulut mulai membisu ketika mengetahui hal itu

Bagaikan panda yang tinggal di dalam rumah kaca
Aku mampu melihat dunia luar
Tapi aku tak mampu merubah dunia itu
Cahaya-cahaya indah itu tersaring oleh benteng kaca disekitarku

Tubuh ini memang besar, kuat dan menakutkan
Namun jiwa ini selembut buluku
Aku pikir Tuhan telah menulis takdir hidupku seperti ini
Dan aku coba intuk menjalani takdir itu

Akhirnya aku temukan kunci untuk keluar
Bertemulah aku dengan panda yang lain
Jalan berkabut itu mulai terlihat indah
Senyum senyum kita mulai mengusir kabut pekat itu

Tapi sebenarnya kabut-kabut itu diusir oleh manusia
Mondar mandir manusia di bumi
Hanya dengan tujuan menuruti hawa nafsu
Mereka ganti kabut-kabut pekat itu dengan asap

Tak sanggup hati ini melihat kenyataan dunia luar
Jikalau aku masih dirumah kaca itu
Pasti aku tak akan mengetahui busuknya dunia ini
Terbungkus rapi oleh kabut pekat
Namun terselimuti oleh semrawutnya asap-asap busuk manusia

Tapi aku bersyukur telah memiliki panda-panda kecil
Sejak bersamanya aku melupakan cerita pilu itu
Canda, Tawa, Senyum, Gembira menghanyutkanku
Beruntunglah panda-panda kecilku belum mengetahui hal itu
Suatu saat kamu akan mengetahuinya

Sajak sajak itu mengharuskanku untuk mengakhiri cerita ini
Menjauh dari serunya bersamamu
Menutup buku cerita dongeng itu
Karena Tuhan mengutusku untuk pulang

Rumah kaca itu saksi bisu hidupku
Aku tau kalau aku masih kecil
Tapi dunia berfikir kalau aku sudah dewasa
Semoga engkau tak seperti diriku

Semarang - Solo - Semarang
wiwid, 15 Desember 2013

Tidak ada komentar :

Posting Komentar