Kita (Aku dan alm. Sandi) sepakat menyebutnya kopi abot (kopi tumpuk).
Ide awal kopi ini dibuat karena kegelisahan kami karena datangnya tamu yang tak sepi. Selain berkunjung mereka pasti mencari kopi. Waktu itu para tamu selalu mencela suguhan kopi yang kami buat. Sampai pada puncaknya, kami malas mencuci gelas kopi karena seringnya tamu yang datang.
Akhirnya terpikir untuk membuat prank pada tamu yang datang. Mug dalam foto itu adalah saksinya. Hari berganti, ampas kopi dalam mug tidak kita buang. Tamu yang datang selalu kita tawari dengan kalimat "kopi abot nda!"
Hari pertama masih normal, karena memang takaran normal. Hari kedua okelah, 2 kali takaran normal, kopi terasa lebih pahit dan asam. Hari ketiga mulai muncul kecurigaan, karena ketika mug diangkat terasa berat, tidak seperti mug pada umumnya. Agar tidak menimbulkan kecurigaan kita memberi alibi kalau mug yang dipakai memang lebih berat, okelah. Hari keempat, mug semakin berat, proses mixing semakin sulit, rasa semakin tidak karuan, dan para tamu yang kemarin pernah meminumnya tidak mau untuk meminum kopi yang kami buat. Hari kelima, jarak antara ampas kopi dengan bibir mug hanya satu ruas jari, aku yakin rasanya pasti makin kacau.
Tamu baru datang, langsung kita sodori, "kopi abot nda!", Mak sruput. Sontak semua yang ada di kamarku langsung ketawa karena memang hanya satu orang itu yang belum pernah merasa kopi tumpuk buatan kita.
Cerita ini adalah satu dari lain kejailan yang kita lakukan dulu. Kau manang kawanku, karena kau lebih dulu mendahuluiku. Tenang tenang lah disana.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar