Rabu, 14 September 2016

Orde tabung

Mumpung gabut, boleh kalik ane ngoceh

Dua minggu lalu, aku nonton pementasan di TBY (Taman Budaya Yogyakarta). Konsep pementasannya adalah dramatic reading. Bahasa kerennya drama radio gitu. :-)
Teater gandring membawakan naskah orde tabung yang dulu pernah dipentaskan oleh mereka. Susunan aktor di isi oleh orang orang tua, salah satunya om Butet yang membuat aku nonton pementasan ini selain nama besar teater gandring tentunya.

Pementasan berlangsung selama 2 jam kurang lebih. Ini adalah sebuah konsep pementasan yang unik. Drama radio di pentaskan dalam gedung pertunjukan beserta aktor aktor yang membaca naskah. Seting panggung berupa meja-kursi beserta cangkir dan ceret yang di letakkan diatas panggung.

Layaknya kita sedang reading naskah dalam proses penggarapan teater. Konflik yang dihadirkan selain konflik dalam naskah, konflik dalam reading naskah juga dimunculkan. Mengalir lembut layaknya tak ada penonton. Teknik teknik pementasan juga muncul dalam dramatic reading ini.

Dengan lamanya durasi dalam pementasan ini, beberapa penonton ada yang telah beranjak dari tempat penduduknya. Aku mencoba berpikir positif saja. Mungkin sudah terlalu malam, menjadikan penonton yang mayoritas anak SMA pulang mendahului, besuk kan sabtu, hari aktif sekolah.

Ide ide yang ditawarkan juga menarik, mulai dari iluryrasi musik yang semuanya keluar dari mulut para aktor, ilustrasi lampu yang relevan dengan adegan. Setting sangat realis sekali begitu juga Kostum & make-up layaknya seniman, mereka memilih warna dominan hitam.

Menurutku, mengapa seniman cenderung memakai warna hitam karena hitam adalah warna yang tetap, ego dengan pendirian, dan mereka sudah tidak mau berfikir untuk memikirkan warna apa yang harus mereka pakai hari ini, besuk dst. Mereka cenderung berfikir tentang karya, bukan penampilan dirinya. Rambut gondrong, pakaian itu-itu saja, jarang mandi, jarang tidur, tapi tetep bersosialisasi seperti manusia normal lainnya.

Hal aneh yang aku temui ketika aku menonton pementasan ini adalah, aku bertemu dengan kawanku anak Teater Gajah Mada, mas Suluh namanya. Aku bertemu denganya ketika aku baru masuk dan sedang mencari tempat duduk, dia berjalan dari arah belakang. Tentu saja langsung aku sapa dia. E lha kok dia lupa siapa aku. Wo lha dalah, bujubuneng, semprol ki bocah.

Setelah ku ingatkan siapa diriku, perbincangan aku lanjutkan. Ya seperti halnya orang yang udah lama gak ketemu. Basa basi sana sini, kesibukannya apa? Gimana kabar temen yg laen, kasih info yang update tentang acara di kota masing masing. Setelah itu kita saling diam, saatnya menikmati pementasan.

Selesai nonton, aku ketemu mas kabut. Wuasem, wonge yo lali aku, kan gatel. Aku cah unnes mas. Oh iyo cah Baki, jawabnya. Akhirnya aku putuskan untuk mampir ke sanggar mereka. Mampir ngombe. Trims buat mas kabut atas sajiannya.

Karena sudah pukul 12 malem, aku ijin untuk pulang ke semarang. Tentu saja mereka kaget. Udah jam 12 malem tapi masih nekat jalan. Perjalanan semarang solo hanya 2 jam saja. Sangar coooiii

Tidak ada komentar :

Posting Komentar