Rabu, 30 Maret 2016

Puncak 29, puncak dengan kabut abadi

Puncak 29, puncaknya gunung Muria. Perjalanan religiusku kali ini berawal dari ocehan aku dengan sahabatku kiwil (wildan) yang semula berencana pergi ke pulau mandalika namun batal. Panasnya jalan pantura semarang kudus membuatku lelah siang itu. Perjalanan menggunakan motor impressa-ku terasa sangat berat dengan beban cerir 60lt rasa 80lt di belakang. Apalagi angin bertiup cukup kencang dari arah utara.
Akhirnya kami sepakat untuk berhenti minum es dawet duren dekat pertigaan jalan welahan mayong. dulu harganya masih 8 rb, tapi sekarang (26/01) jadi 10. Lumayan lah bisa bikin segar mata dan obat batal ikut festival duren di dekat kampusku. Namun rasa dan aroma duren yang kami makan tak semanis dan se-nendang dulu. Perjalanan berlanjut setelah dapat info lokasi kemah sastra di pantai Bandengan, Jepara.
Jalan Welahan - Mayong sekarang (26/01) sudah bagus, tak seperti dulu ketika banjir menerjang Jepara - Kudus dan beberapa daerah di Pati. Jalan cukup lengang saat kami lalui. Sesekali tubuhku naik-turun karena jalan beton tidak rata, kadang ada beberapa tempat retak serta berlubang. Tepat pukul 4 sore kami tiba di bandengan.
Oh iya, sampai lupa ^-^ aku mau ceritakan dulu ocehanku bareng kiwil saat melintas di jalan Welahan - Mayong.
kae gunung muria po ya?
iyo kayane, tapi kok gunung e akeh ya?
po sesuk bar ko bandengan neng muria wae pye?
tapi aku ra gowo opo-opo i
Halah, rapopo, modal nekat wae
Dan akhirnya kita sampai di toko depan gerbang masuk pantai Bandengan. Sahabat SS ternyata telah menunggu kita cukup lama. Maklumlah, karena sebelumnya aku mengambil jalan yang belum pernah kulalui. Tapi akses menuju bandengan sudah sangat bagus dan lengkap dengan petunjuk arahnya.
Setelah selesai acara kemah sastra yang berlangsung di pantai bandengan, aku bersama kiwil telah menyiapkan diri dan peralatan mendaki seadanya yang kita pinjam dari sahabat ss. Karena kita belum sempat sarapan di pantai bandengan, kita memutuskan untuk ke rumah sahabat SS yang ada di jepara. Dengan maksud menghemat uang, tapo si pemilik tak ada di rumahnya. Kita menunggu sampai tertidur beberapa menit. Karena efek lapar, rambutan dwpan rumah pun jadi pelampiasan.
Matahari mulai menunjukkan kuasanya. Kita memutuskan untuk mencari makan di luar saja. Karena kita sudah janjian dengan sahabat ss lainnya, maka terpaksa kita mampir ke rumah. Sekitar jam 4 sore kita pulang dari rumah bang munif, aku dan kiwil mengambil jalan ke arah gunung muria, sahabat yang lain menuju semarang.
Dengan bekal penunjuk jalan seadanya dari sana sini, kita nekat ke desa rahtawu. Rahtawu adalah desa terakhir yang dekat dengan puncak 29 gunung muria. Kita sempat bingung mau memilih jalan yang mana. Karena jalan ke desa rahtawu tidak semuanya mulus, tikungan sana sini. Percabangan jalan cukup membibgungkan, karna petunjuk jalan sangat kecil.
Akhirnya kita sampai di desa rahtawu sebelum adzan magrib. Hari telah gelap, sedangkan mendung membuat suasana desa terasa mistis. Akhirnya kami memutuskan untuk shalat magrib di mushala yang terletak dekat dengan basecamp

Tidak ada komentar :

Posting Komentar