Minggu, 09 Agustus 2015

Halamanku

Pagi ini aku melakukan aktivitas seperti biasnya. Bangun tidur, lalu ke kamar mandi melakukan aktivitas pagi, ambil air wudhu, lalu shalat subuh. Habis shalat, pergi ke kamar tidur, beres2 kasur seperti biasanya saat di rumah orang tua. Lain cerita kalau lagi di semarang. Udara pagi tadi pagi terasa dingin, tapi menurutku tidak dingin dingin amat. Aku berjalan ke halaman rumah, seperti biasa, melihat tanaman tanaman yang aku tanam dan sebagian tumbuh sendiri dan sebagian lagi di tanam oleh ibuku. Aku berjalan dari pohon pisang dengan diameter batang yang besar-besar, kira-kira ada 5 dengan anakan yang tak kuhitung. Lalu aku menggerakkan kakiku ke arah kananku,
sedikit mengintai tanaman pandan yang terletak di utara tanaman pisang. Pandan yang tumbuh di pekaranganku lumayan rimbun, mungkin karena tiap pagi selalu rajin di siram oleh ibuku dengan air bekas cucian baju atau piring.
Pagar bagian depan rumahku bukanlah terbuat dari beton ataupun besi yang berjejer. Berjejer tanaman dengan daun lebar lebar dan berwarna hijau berbaris rapi membentuk pagar depan rumahku. Orang orang di daerahku biasa menyebutnya "godhong mangkok-an". Mungkin karena bentuk daunnya yang menyerupai mangkok, dan terkadanh kalau hujan dapat menampung banyak sekali air dalam satu daunnya.
Kalau pohon pisang dan tanaman pandan ada di bagian kiri jalan masuk, sebelah kanannya ada pohon mangga, nangka, jambu dan beberapa tanamana obat serta kalau tidak salah beberapa pohon alpukat yang masih seyingggi lutut tumbuh dengan sendirinya tanpa diketahui siapa yang menanamnya. Pohon alpukat itu sebenarnya masih prediksi, karena dulu aku sempat menaruh biji-biji alpukat di sekitar pohon itu tumbuh. Beberapa tanaman obat juga ada di sekitar pohon alpukat, tidak terlalu banyak memang, namun dapat membuat tanamanku jadi beraneka ragam, mulai dari gingseng, kunyit, kunir dan aku tak tau apa lagi yang ada disana.
Oh iya sebenarnya di kiri jalan masuk ada beberapa tanaman yang belum aku sebutkan, mulai dari pohon pepaya, ketela pohon, serta pohon kelor yang mulai tinggi, mungkin tingginya hanya skitar pundakku. Karena depan rumahku ada jalan, lalu parit kecil kemudian sawah, maka tanggal yang membatasi jalan dengan parit seakan milikku, jadi aku juga menanaminya dengan beberapa tanaman. Pohon waru mendominasi tanaman yang ada di pinggir parit. Dua tahun yang lalu, sebenarnya pohon waru ini telah ditebangi oleh kakakku, tapi sekarang sudah mulai tumbuh kembali, tunas-tunas baru mulai tumbuh. Selain pohon waru, ada juga pohon srikaya dan mangga. Benih tanaman cabe tumbuh di antara pohon mangga dan pete cina yang tingginya sekitar dua setengah meteran. Ada juga beberapa godhong mangkok-an yang bersesakan diantara pohon waru, mangga dan juga pete cina. Seolah olah pohon ini tidak mau kalah dengan pohon yang lain. Mungkin karena memang mudah sekali menanam tanaman ini.
Sedikit cerita saat pagi hari tadi. Belum usai aku melihat tanamanku, suara panggilan dari belakang rumag menandakan ibuku membutuhkan bantuan. Lalu aku beranjak dari tempatku mengawasi halaman rumahku.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar