DALAM panggung yang berjarak sekitar 2 meter dari tempat duduk penonton paling depan itu ada Nenek dan Kakek duduk di ruang tamu. Keduanya diperankan anggota Teater SS Universitas Negeri Semarang (Unnes) di auditorium Fakultas Bahasa dan Seni dengan sebutan gedung B6, tak lama ini.
Pementasan naskah ’’Pada Suatu Hari’’ karya Arifin C Noer dimulai dengan percakapan romantis pasangan lanjut usia. Keduanya baru saja memperingati ulang tahun pernikahannya. Meski tidak muda lagi, pasangan itu saling bermanjamanja selayaknya pasangan muda mudi. Saking romantisnya, penonton sempat dibuat gemas. Ada yang tertawa, tersenyum, sampai memajukan badan untuk melihat adegan lebih dekat.
Namun, pertunjukan drama tersebut kurang nyaman untuk penonton. Ruang berkapasitas sekitar 400 orang dengan kelengkapan panggung permanen, tata lampu, balkon, serambi besar itu tidak maksimal digunakan. Terutama tata lampu dengan daya tinggi terdiri dari 12 lampu par, 24 lampu moving head dan 2 lampu halogen tidak dipergunakan satu pun.
Teater SS pada Minggu (10/5), malam justru menggunakan lampu yang dipasang dengan tripod di kedua sisi bagian depan. Itu pun masing-masing tripod hanya dipasang dengan tiga lampu par kapasitas rendah dan satu lampu halogen. Hasilnya, panggung terlihat remang oleh penonton, meskipun pencahayaan sudah dimaksimalkan.
Meski begitu, pementasan garapan sutradara Dodo tersebut tetap berjalan dari adegan ke adegan selanjutnya. Keromantisan Nenek dan Kakek buyar ketika seorang janda tua, Nyonya Wenas, datang bertamu. Dari adegan di panggung terlihat jelas jika janda dengan Kakek pernah mempunyai hubungan dekat. Api cemburu membakar Nenek. Setelah janda tersebut pulang, api semakin berkobar. Puncaknya, Nenek minta cerai.
Permasalahan Keluarga
Di tengah prahara itu, putri Nenek dan Kakek bernama Novia bertandang ke rumah. Novia bercerita jika dirinya sedang dilanda permasalahan keluarga dan ingin minta cerai. Padahal Novia sudah cerai beberapa kali sebelumnya. Di posisi ini, Nenek dan Kakek seperti kembali akur. Sebagai orang tua, Nenek pun memberi nasihat kepada putrinya soal perceraian.
’’Rumah tangga adalah rumah suci yang lain, seperti masjid, gereja dan kelenteng.
Dan rumah suci adalah tempat dimana firman-firman Tuhan yang agung dan suci dimulyakan. Rumah suci adalah tempat dimana cinta kasih ditumbuhkembangkan menjadi gairah hidup, untuk meraih maka hidup yang samara dalam semesta ini,’’ kata Nenek menasihati.
Pergelaran teater ini masuk dalam program Pentas Keliling 2015. Kota yang akan disinggahi adalah Magelang, Yogyakarta dan Salatiga yang berakhir pada 2 Juni nanti. (Aristya Kusuma Verdana-87)
sumber suaramerdeka.com
Tidak ada komentar :
Posting Komentar