Kamis, 02 April 2015

kupanggil engkau ibu

slamet, itu nama yang diberikan ibuku padaku. kenapa ibu yang memberiku nama, karena ibuku satu-satunya orang tua yang aku lihat ketika aku lahir. kata ibuku, sewaktu aku lahir aka hanya tersenyum, tidak terdengar tangisan keluar dari mulutku.
aku dilahirkan disebuah gubuk kecil. gubuk itu berukuran dua meter kali dua meter. lebih tepatnya gubuk itu hanya bisa dipakai tidur oleh dua orang saja. dindingnya terbuat dari anyaman anyaman bambu. tak terhitung berapa lubang yang ada di dinding.
gubuk atau biasa kita menyebutnya rumah. hanya didiami ibuku sampai aku berumur tiga tahun setelah itu ibuku tinggal di tempat yang lebih nyaman dariku, sebuah petak tanah berukuran dua kali satu meter dengan atap kayu dan tanah.
hari-hariku setelah ibu pergi, aku masih tidak mengert kenapa ibu meninggalkanku. padahal kita selalu bersama dimananapun kita berada. aku masih ingat ketika aku berjalan diatas tanggul bengawan solo. semua orang pasti tau nama sungai yang terkenal itu. sungai yang berasal dari waduk gajah mungkur dan muara dari sungai sungai kecil yang berada di sekitar alirannya

kita berjalan diatas tanggul samping rumahku. kita bergandengan tangan dan ibu mengajari aku cara berjalan. aku selalu dibantu ibu setiap kali aku jatuh. ibuku memang satu satunya wanita yang aku cintai. bagiku, tak ada lagi wanita yang bisa seperti dia. ibu biasa memanggilku dengan sebutan gepeng, slamet gepeng. itu adalah nama yang selalu aku ingat. sebuah nama yang selalu diucapkanibuku sebelum dia pergi. sampai sekarang aku tidak pernah lupa dengan ibuku.

1 komentar :

  1. Ibu. Wanita paruh baya yang berusaha tersenyum atas apapun yang terjadi.
    Keluh kesah hanya teradu ketika sepertiga malam tiba. Bersama aya, aku masih mengingatnya ketika aku masih kecil, dulu.
    Ibu, orang pertama bahagia dikala aku bahagia, begitu pula sebaliknya. Lebih teriris hatinya dikala aku sedang dalam kesulitan.
    Ya. Aku begitu merindunya, hanya mampu bertegur sapa melalui media elektronik belaka.
    Aku pun selalu bertanya, kapan aku dapat bahagiakan beliau. :(
    Sampai saat ini, aku masih mengeluh padanya.

    BalasHapus