Sabtu, 02 Agustus 2014

Stasiun Gawok

Seperti biasanya, ketika aku di kampung halaman, tak heran jika aku selalu menyempatkan waktuku untuk bersepeda, karena itu adalah hobiku.
Saat aku bersepeda pagi atau sore, aku menyebutnya sebagai ritual "mengejar matahari".
Mengapa seperti itu?
Karena jalur yang sering aku ambil adalah ke barat atau ke timur.
Aku tidak memilih jalur utara karena itu menuju arah kota, sedangkan jalur selatan lebih ke arah desa dengan persawahan yang dominan.
Sore itu aku memilih jalur barat untuk mencari kitab suci (emangnya kera sakti  ), destinasinya adalah stasiun pembantu (berarti ada stasiun majikan dong  ) "stasiun Gawok".
Stasiun ini adalah satu satunya stasiun yang ada di kabupatenku, stasiun ini juga bukan stasiun yang spesial, karena sifatnya hanya sebagi pembantu.
Walaupun hanya sebagai stasiun pembantu, ketika sore stasiun ini selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat sekitar.
Entah itu tua, muda, sampai anak-anak ada di sini, penjual yg menjajakan dagangannya pun beraneka ragam, mulai dari makanan, mainan sampai dengan pakaian ada di sini.
Biasanya ketika jam telah menunjuk angka lima sore, kereta api melewati stasiun ini, itulah waktu yang paling ramai, karena para pengendara motor terhenti beberapa menit oleh palang kereta api.
Saat palang tersebut terbuka, jalanan menjadi riuh dan berisik dengan klakson dan knalpot yang memiliki suara beraneka ragam.
Bersamaan dengan itu, aku pulang ke rumah dengan mencari jalur yang berbeda dari jalur berangkat.
Aku masih ingat kata pak khotib waktu ceramah subuh, "mengambil jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang adalah sunah ketika shalat id".
Hal itu aku terapkan dalam ritual "mengejar matahari" maupun ketika aku melakukan perjalanan lainnya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar